Skip to content

Seumur Jagung, Pembangunan Drainase Pemukiman Desa Cendil, Alami Jebol, Retak dan Lantai Hancur

Seumur Jagung, Pembangunan Drainase Pemukiman Desa Cendil, Alami Jebol, Retak dan Lantai Hancur

Laporan Wartawan Matababel (12/07/19).

Belitung Timur Transkhatulistiwa

Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan.

Tahun 2019, pemerintah memiliki target untuk mewujudkan “Cities Without Slums” yang merupakan bagian dari
Implementasi Komitmen Komunitas Internasional dan Target Nasional dalam RPJMN.

Pemerintah mentargetkan
dalam RPJMN pada tahun 2019 terwujud kondisi 0% kawasan kumuh di perkotaan. Untuk mencapai target tersebut,
Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah menyusun program-program strategis guna meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan dan perdesaan sehingga menjadi kawasan
yang produktif, aman, layak huni dan berkelanjutan.

Namun sayang, sepertinya hal tersebut belum terwujud di Desa Cendil, Kabupaten Belitung Timur, Pasalnya Pembangunan PSD Pemukiman Desa Cendil, Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur (Beltim) di laksanakan oleh CV. Karya, mengalami jebol, dan beberapa titik alami keretakan, rusak pada dinding dranaise hingga hancur pada bagian lantai. Lebih Malangnya lagi, pembangunan belum genap 1 tahun.

Di ketahui pengerjaan pembangunan, bersumber dana APBD perubahan Kabupaten Beltim 2018, menelan biaya Rp. 149.800.000 dengan No kontrak 01/SPK/PSDP/APBDP/DRPKP.III/2018, mulai pekerjaan 05 November 2018, dengan masa pengerjaan 45 hari kalender.

Padahal jelas di katakan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR infratruktur di bangun untuk meningkatkan kualitas Perkotaan dan Perdesaan sehingga menjadi kawasan yang produktif, aman, layak huni dan berkelanjutan.

Menurut bidang cipta karya Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Pemukiman (DPUPR) Kabupaten Beltim, Roby yanuar mengatakan, kejadian tersebut bukan karna teknis namun faktor alam, Jumat (12/07/19).

“Karena memang masih dalam masa pemeliharaan, pada prinsipnya mereka bersedia memperbaiki,” katanya.

Sedangkan derasnya aliran air seperti yang di katakan sebelumnya, sudah di ketahui pelaksana kegiatan. Yang artinya mereka sudah siap membangun dengan perencanaan yang baik agar tidak terjadi hal tidak di inginkan.

Roby katakan, mulainya pekerjaan perbaikan menunggu konfirmasi pihak pelaksana kegiatan.

“Kita menunggu konfirmasi dari rekan aja dulu ya. Karena posisinya pemborong pekerjaan masih berada di Jakarta. Nanti kalo mereka sudah datang kami hubungi balik,” Lanjutnya.

Ditempat yang sama Asisten Teknis (Astek) pelaksanaan Farizal mengatakan, menjamin pembangunan tersebut tidak akan terjadi lagi kerusakan yang lain.

“Kemungkinan cuman lantai, jika pondasinya tidak mungkin lagi. Lantainya sekalian akan kami perbaiki,” katanya.

Ia katakan, tak berani memasang lantai terlalu tebal karena melihat kondisi air yang mengalir cukup besar.

“Melihat dari kondisi, air yang mengalir cukup deras, sedangkan apabila perbaikan lantai terlalu tebal, belum tentu juga kami pasang. Jadi kita sesuaikan dengan kondisi kosumsinya karena ketebalan kemarin cuma 10 cm. Tapi jika melihat kondisi ini nampaknya harus lebih dari 10 cm,” ujarnya bingung.

Ia mengakui, bangunan tersebut, baru 7 bulan selesai di kerjakan.

“Untuk Pengerjaan baru 7 bulan selesai di kerjakan. Kita usahakan, karena ini akan di lakukan perbaikan, kita lihat nanti titik-titik kritisnya. Jadi waktu pelaksanaan perbaikan ini, kita akan langsung perbaiki kondisi yang kritisnya. Karena kalo kerjaan di air ini sulit kita prediksi,” terangnya. (Red)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment