Skip to content

Habib Noh Alhabsyi, Salah Satu Wali Allah Dari Singapura

Habib Noh Alhabsyi, Salah Satu Wali Allah Dari Singapura

Transkhatulistiwa 20/10/2019 Singapore

Singapura, negeri melayu yang sekarang berpenduduk mayoritas China disusul dengan masyarakat melayu yang masih tetap melestarikan tradisi dan peninggalan bersejarah kaum muslimin. Salah satunya adalah kramat Habib Noh yang berada ditengah-tengah kota, Makam sufi yang berusia lebih dari seabad itu tetap terjaga serta terpelihara dengan baik. Dari Silsilahnya Habib Noh menyambung sampai Rasullullah SAW yaitu sebagai berikut Al-Wali al-Ghauts Fard al-Habib Nuh bin Muhammad bin Ahmad bin Idrus bin Hadi tsani bin Ahmad shohib Syi’ib bin Muhammad ash-Shagir bin Alwy bin Abu Bakar al-Habsyi bin Ali al-Faqih bin Ahmad bin Muhammad Assadullah bin Hasan at-turabi bin Sayyidina Ali bin Sayyidina al-Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Sayyidina Ali Ba’Alawy bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Khali’ Qatsam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein bin Sayyidina al-Imam Ali bin Abi Thalib wa Sayidatuna Fathimah az-Zahrah al-Batul Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in bintiSayyidina wa Mawlana Rasulullah Muhammad bin Abdullah Shalallahu wa aala ‘Aalihi was salam

Di ketinggian sebuah bukit terlihat bangunan yang dikelilingi gedung-gedung tinggi yang menjulang serta disebelah utara terdapat jalan Tol. Dari Jalan Palmer, semua tampak jelas. Banyak burung-burung merpati yang bebas berterbangan atau bertengger disekitarnya menambah kesejukan suasana di tengah kesibukan Bandar Raya Negeri Singa tersebut.

Banyak penduduk setempat, dari rumpun, Arab, Melayu, India, juga orang-orang dari berbagai negeri, seperti Malaysia, Thailand dan Indonesia banyak menziarahi tempat yang dikenal sebagai keramat Habib Noh Alhabsyi ini.

Keramat Habib Noh ini dibangun pada 1890 oleh Syed Mohammad bin Ahmad Alsagaff. Bangunan di atas bukit itu para penziarah harus melalui 49 anak tangga untuk mencapainya pemeliharaan masjid serta makam tersebut dibiayai para dermawan. Di masa lalu pemeliharaan tempat keramat itu dilakukan olah para sukarelawan, yaitu orang-orang yang percaya dan mengharap berkah dari memelihara makam wali yang dikenal sakti tersebut. Sejak tahun 1936 Masjid serta makam tersebut ditangani oleh Dewan Muslim dan Hindu, yang pada akhirnya pengelolaan tersebut diambil alih oleh Muslim Cuoncil of Singapore (MUIS).

Sekarang makam tersebut dijaga dan dirawat oleh seorang Imam serta dibantu para asisten, Salah satu tugasnya, antara lain menertibkan para peminta-peminta. Kepada para peziarah yang ingin memberikan uang kepada para pengemis diminta untuk menyerahkannya kepada mereka, lalu sang asisten Imam akan membagi-bagikannya dengan sama rata. Para penduduk disekitar makampun masih meneruskan tradisi yang ada yaitu menyumbang sesuatu bagi kepentingan peziarah, dari mulai memberikan makanan serta menyiapkan minuman bagi para penziarah yang hadir terutama setelah melaksanakan sholat juma’at.

Makam Habib Noh terlihat batu nisan makam yang ada dililit kain berwarna kuning terang, yang diasosiasikan dengan kesucian, sementara makamnya diselimuti kain berwarna hijau, warna yang selalu dihubungkan dengan Islam. Harumnya wewangian dan bunga memenuhi segenap ruangan makam.

Untuk mengetahui siapakah sebenarnya Habib Noh, Dan mengapa masyarakat disana masih sangat menghormati, walaupun Habi Noh telah meninggal seabad lalu Media Transkhatulistiwa sengaja berkunjung kesana untuk berziarah sekaligus mengetahui tentang salah satu wali Allah yang ada di negara Singapore.

Sayyid Noh bin Mohammad Alhabsyi atau Habib Noh, begitu panggilannya, pertama ke Singapura beliau datang dari Kedah, semenanjung Malaysia. Setelah Sir Stamford Raffles menduduki Malaysia. Ia bermukim selama 30 tahun. Namun ia tetap sering berkeliling kemalaysia, kebanyakan sering ke wilayah Johor Baru, untuk menjalankan dakwahnya.

Semasa hidupnya, Habib Noh sangat memperhatikan anak-anak serta orang miskin yang melarat. Ia selalu memberikan anak-anak permen serta menyumbangkan uang untuk fakir miskin. Ia amat dicintai oleh orang yang mengenal dirinya, tidak aneh bila Habib Noh selalu dikelilingi teman-temannya. Ia juga rajin berziarah kubur, serta berdoa untuk mereka yang sudah meninggal dunia, meskipun ia tidak mengenalnya secara pribadi makam tersebut.

Menurut catatan, Habib Noh menikah dengan seorang wanita bernama Hamidah yang berasal dari Provinsi Wellesly, Penang malasyia. Dari pernikahanya mereka memiliki seorang putri yang bernama Sharifah Badaniah. Kemudian Sharifah Badaniah menikah dengan seorang Sayed Mohammad bin Hasan Al-Shatiri di Jelutong, Penang. Dari pernikahan itu mereka memiliki seorang putri bernama Sharifah Rugayah yang menikah dengan Sayed Alwi bin Ali Al-Junaid. Dari pasangan inilah Habib Noh memperoleh lima cicit Sayed Abdurrahman, Sayed Abdullah, Sharifah Muznah, Sharifah Zainah, dan Sharifah Zubaidah.

Habib Noh sendiri memiliki tiga orang adik laki-laki. Mereka adalah Habib Arifin, dan Habib Zain, keduanya meninggal di Penang. Dan yang termuda Habib Salikin yang meninggal di Daiq Riau Indonesia.

Tidak mengherankan jika orang seperti Habib Noh, pendakwah yang banyak beramal, dianugerahi kemampuan istimewa. Banyak yang percaya, ia memiliki kemampuan untuk menghilang dan suka terlihat berada dibeberapa tempat pada saat yang bersaman. Contohnya menurut cerita, ketika ia berada dinegara Singapura, ada beberapa orang pada saat yang bersamaan juga melihat habib Noh sedang berdoa diMasjidil Haram Mekah, Arab Saudi.

Kelebihan yang muncul dari rasa cintanya terhadap anak-anak. Pernah habib Noh menyembuhkan luka di kaki seorang anak yang tak bisa berjalan, hanya dengan cara melatakkan tangannya di atas luka tersebut sambil berdoa kepada Allah SWT. Hanya dalam beberapa saat, si anak itu dapat berlari kembali seperti tidak pernah terjadi apa-apa dengannya. Ayah si anak yang begitu bahagia, memberikan sejumlah uang sebagai tanda terima kasih kepada Habib Noh, Habib Noh menerima hadiah tersebut, tapi kemudian menyerahkan kembali kepada orang-orang yang membutuhkan.

Bahkan dikisahkan suatu ketika Habib Noh pernah menembus hujan badai untuk menyembuhkan seorang anak yang sedang sakit, Ia berjalan ke wilayah Paya Lebar dari rumahnya di Teluk Belangah. Ketika ia tiba di tempat tersebut orang tua sianak yang sedang sakit seakan tidak percaya dimana Ia menyaksikan bahwa jubah Habib Noh tetap kering, tidaklah basah, atau tanda-tanda lain lseayaknya orang yang kehujanan.

Di lain waktu Habib Noh pernah terbangun dari tidurnya, karena suara tangis anak kecil berkepanjangan. Ia kemudian menyadari bahwa tangis itu berasal dari sebuah rumah keluarga yang miskin. Jelas terdengar bahwa tangis tersebut berasal dari seorang anak yang sedang kelaparan. Habib Noh seketika mengambil buah kelapa, lalu diperas menjadi santan, lalu dicampurnya dengan air. Setelah itu dibacakan sebuah doa oleh beliau, atas ijin serta kehendak Allah SWT, santan itu berubah jadi susu dan diberikan kepada anak tersebut, untuk sementara susu tersebut dapat menghentikan tangis kelaparan bocah faqir miskin tersebut.

Habib Noh juga dengan kekuatan yang dimiliki dapat secara akurat bisa membaca serta mengetahui apakah seseorang yang datang ketempatnya memang membutuhkan bantuannya atau memang mempunyai niat yang tidak baik terhadap dirinya. Konon, ada seorang pria India muslim yang akan mengunjungi keluarganya di India dengan menggunakan kapal laut. Secara rahasia dalam hati ia bernazar, bila dirinya dapat kembali ke Singapura kembali dari India dengan selamat, ia akan memberi hadiah kepada Habib Noh. Saat tiba kembali ke Singapura, ia sangat terkejut mendapati Habib Noh telah menunggunya di pelabuhan, Habib Noh berkata kepada sipemuda India tersebut “Saya yakin Anda telah berjanji untuk memberikan sesuatu kepada saya.” Dengan terkejut si India itu menjawab kepada Habib Noh, “Katakanlah wahai orang bijak, apa yang engkau inginkan dari ku, maka akan aku berikan kepadamu.” Sang Habib berkata lagi, “Saya ingin memiliki beberapa gulung kain Kuning, yang akan saya berikan kepada orang miskin dan anak-anak.” Pemuda India yang diminta kain itu pun kemudian memeluk Habib Noh dan sambil menangis, ia berkata, “Demi Allah aku sangat bersedia untuk menghadiahkannya kepada orang yang dimuliakan Allah karena kebaikannya terhadap kemanusiaan. Berikan aku waktu tiga hari untuk mempersembahkan kepadamu.” Dan orang India itu pun setelah tigabhari menepati janjinya. meberikan yang diminta oleh Habib Noh. Wawlahua’allam Bisawab.

Diakhir-akhir hayatnya Habib Noh rupanya sudah merasa bahwa dirinya akan segera dipanggil Allah SWTserta akan meninggalkan dunia yang fana, beberapa hari sebelum saatnya tiba, ia melakukan apa saja yang dapat ial lakukakan, agar dirinya dapat menyampaikan sebanyak mungkin nasihat kepada teman-temannya yang iacintai.

Beberapa kata bijak yang diucapkanya serta patut kita ingat dan ikuti adalah
“Janganlah serakah akan harta dan materi yang bersifat duniawi, atau memiliki perasaan benci kepada siapapun sepanjang hidupmu.”

Pada akhir Juli 1866, pada usia 78 tahun, InalillahiwainailahiRajiun Habib Noh meninggal dunia dikediamannya Johor Temenggong Abu Bakar di Teluk Belangah. Ketika berita meninggalnya menyebar, banyak orang dari berbagai kalangan, termasuk para muallaf serta penduduk dari pulau tetangga, datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Bahkan semua Kusir yang ada diPulau Singa menghentikan kegiatannya mencari uang, Untuk mengantarkan yang akan bertakjiah,serta mengantarkan orang tua, wanita, dan anak-anak ke pemakaman habib Noh secara gratis.

Ada Suatu ke anehan yang terjadi dimana sebelum rombongan meninggalkan kediaman Temenggong menuju pemakaman Muslil Bidari, terjadi sebuah peristiwa, keranda Habib Noh tidak bisa bergerak meski puluhan orang telah mengerahkan tenaga untuk mengangkatnya. Suasana panik dan tangis hampir-hampir tak terbendung. Untunglah saat itu seorang kerabat ingat pesan terakhir almarhum sebelum beliau wafat, Habib Noh pernah berwasiat kepada kerabatnya bahwa ia ingin dimakamkan di puncak Gunung Palmer ,sebuah pekuburan kecil. Namun entah mengapa, di hari itu kerabatnya melupakan pesan tersebut. Begitu para kerabat dan sahabatnya memutuskan hendak membawa jenazah ke tempat yang diwasiatkan, keranda menjadi enteng, serta dapat dipikul dari bahu ke bahu, bak melayang mendaki bukit, serta diiringi gemuruh takbir. Hingga sekarang makam disebelah Gedung YMCA, atau yang dikenal sebgai Bestway Building, itu tetap diziarahi.

Meskipun ia telah pergi, tinggal makamnya yang dikeramatkan, ada sebuah keajaiban yang masih diingat para penduduk Singapura. Ketika Perang Dunia II, tanpa ampun sebuah bom telah menghancurkan area di Gunung Palmer, termasuk pemakaman yang ada di sana. Tetapi sungguh ajaib, keramat Habib Noh tetap berdiri tegak seakan tak tersentuh sama sekali oleh Bom yang telah jatuh disana WaUllahu’a’lam Bisawab.
(Achmad Maulidin)

Please follow and like us:
0

Leave a Comment